Sudah menjadi ritual tiap tahun, saat lebaran tiba, maka kesibukan yang berbeda bagi ibu-ibu rumah tangga yang bekerja seperti saya adalah menjadi ibu rumah tangga sesungguhnya. Sudah terbayang, ritual pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang akan menghiasi liburan lebaran SETIAP TAHUNnya. Bagun pagi,menyiapkan sarapan, memastikan anak-anak mandi, menyiapkan makan siang, mencuci perabotan masak maupun peralatan makan, mencuci baju, setrika baju, menyapu lantai, mengepel lantai, menyiram tanaman, memastikan kamar anak-anak tertata rapi dan benda-benda ada pada tempatnya dan .... mandi.
Sementara pada saat yang bersamaan, si mbak, yang biasanya menjadi asisten di rumah yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di atas, sedang membuat ketupat, makan ketupat, bercengkrama dengan keluarga dan menikmati Hari Raya ini dengan keluarga besar, sanak famili serta kerabat dan teman, sambil tertawa riang, tanpa harus memikirkan apakah sudah beres memasak atau mencuci baju. Tentu saja mereka pantas untuk mendapatkan semua keriangan itu, setelah hampir setahun berpisah dari sanak keluarga dan terlebih setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu belasan jam, dua kali lipat jarak tempuh dalam waktu normal, bukan menjadi penghalang untuk menikmati sukacita Idul Fitri di kampung halaman mereka. Perjalanan mudik dengan bermacet-macet dan menghabiskan waktu yang luar biasa mengundang keletihan badani, menjadi sebuah perayaan tersendiri yang mungkin telah dianggap menjadi ritual tahunan jelang Idul Fitri.
Ternyata...
Kembali ke rumah. Rasanya, baru membayangkan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga tadi saja sudah melelahkan. Lebih baik berkutat dengan tumpukan buku-buku dan bekerja di depan laptop berjam-jam dari pada harus berkelahi dengan cipratan minyak panas dari ikan-ikan yang sudah tercemplung dalam wajan. Atau harus menggosok pantat panci yang-ternyata selama ini tidak dibersihkan benar- sudah mulai kehitam-hitaman. Lihatlah mesin cuci ini, lumut-lumut yang sudah mulai menduduki plastik penutup mesin pengeringnya, rasanya tidak bisa didiamkan merajalela. Itu perlu dibersihkan. Kemudian tumpukan baju-baju yang harus distrika. Hmm....dimulai dari mana ya? Kamar si mbak juga ternyata berdebu. Kamar mandi? sudah saatnya dibersihkan. Duh..betapa selama ini hal-hal yang kelihatannya sepele malah akan mencuri waktu lebih lama lagi dari sekadar menjalankan rutinitas pengaturan tata laksana rumah tangga sehari-hari.
Inilah daftar hal-hal yang perlu dibenahi:
- safety mat untuk lantai dekat cuci baju -- salah-salah, bisa terpeleset di lantai dekat air keran
- pisau -- satu pisau yang tajam tidak cukup untuk memotong buah, memotong daging, mengiris bawang. Dua pisau lainnya, tumpulll
- selang baru -- kasihan si mbak, ternyata selama ini harus mengambil air dari ember untuk dituang ke mesin cuci ketimbang menggunakan selang, mbok ngomong toh mbak--
- kain pel -- selama ini lantai bersih, di pel pakai apa ya?
- setrika baru -- nah..baru ketahuan setelah Fia menyetrika bajunya sendiri. Kalau strika itu sudah panas, harus dicabut kabel listriknya. Dan lihat kabel-kabelnya sudah menunjukkan badannya keluar.. wah...sungguh berbahaya. Ini list untuk setelah hari ketiga tanpa si mbak. Masih ada tujuh hari ke depannya.
Belajar dari ketidakhadiran si mbak
Saat menyiapkan makanan malam tadi, tiba-tiba Fia berkomentar, ternyata enak juga nga ada di mbak ya ma. Semuanya bisa kita buat sendiri. Mama nga usah kerja aja. Saya tidak berkomentar. Menyiapkan makan buat anggota keluarga memang mempunyai keunikan dan kepuasan tersendiri. Apalagi kalau nasi goreng buatan kita diancungi jempol dan mereka minta tambah lagi. Padahal, itu siasat makan malam, karena hari ini tidak ada pasar jadi tidak belanja dan stock di kulkas sudah habis. Untung masih ada buah apel untuk mengimbangi sayur yang tidak tersedia hari ini. Kemudian juga saat bersibuk-sibuk di dapur, mereka keluar masuk hanya sekadar menanyakan kita makan apa lagi ma? Senangnya, menikmati kesukaan mereka yang menunggu dengan penuh harap, menu apa yang akan keluar untuk makan siang atau makan malam mereka. Meski, ada satu malam, kami harus makan di luar karena rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk masak makan malam, karena tubuh yang sudah terlalu letih.
Hal yang pasti, ternyata kami tidak harus mengambil semua pekerjaan itu sendiri. Anak-anak yang sudah semakin besar tampaknya juga sudah dapat 'diperbantukan' untuk membantu kami orang tuanya. Apalagi, inisiatif membantu keluar dari mulut mereka sendiri. MEski kadarnya tidak lebih dari kecerewetan ibu-ibu yang berkaitan dengan kerapihan rumah, tentunya. Ah...waktu berjalan begitu cepat. Setiap tahun, pasti ada yang berubah meski ritual pekerjaan rumah tangga tidak berubah. Kebersamaan tanpa si mbak ternyata punya nilai sendiri dalam kehidupan berumah tangga. Hubungan anggota keluarga semakin akrab satu sama lain, karena adanya beban sepenanggungan bersama. Kesempatan untuk berbicara dengan anak-anak dari hari ke hati juga dapat dilakukan kapan saja, bahkan saat sedang mencuci baju bersama. Kesempatan juga untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan dan aturan-aturan yang berkaitan dengan tata cara dan etikat dalam kehidupan untuk anak-anak. Pola makan dan minum anak-anak juga terpantau dengan jelas. Apakah mereka minum susu dengan benar, berapa banyak porsi makan siang mereka, apa yang mereka lakukan di sekolah? semua terpantau baik secara kasat mata maupun dari perbincangan-perbincangan ringan sehari-hari. Saya yakin, pengalaman tanpa si mbak, pasti bervariasi dari satu rumah dengan rumah lainnya. Apalagi rumah yang biasa tanpa si mbak ya? Wah ..bersyukurlah mereka.
Demikianlah, ternyata quality time dengan anggota keluarga dapat terjalin dengan lebih sempurna, bukan saat berlibur bersama, tapi saat si mbak mudik. Meski tubuh letih, tapi banyak yang bisa didapat dari waktu-waktu bersama ini.
Mbak, kembali kapannn???
Monday, September 21, 2009
Tuesday, March 10, 2009
Percaya aja...
Kejadian jatuh dari sepeda yang menyebabkan Fia luka dan berdarah, membawa trauma sendiri buat saya, ibunya. Sepeda baru Fia benar-benar membuat saya jantungan. Pertama karena Fia sangat terobsesi dengan waktu bermainnya, kedua, kreatifitas Fia dalam mengendarai sepeda yang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya. Sebetulnya, Fia trampil mengendarai sepedanya namun pada saat yang sama ia belum menguasai benar sepeda barunya ini. Alhasil, ada saja cerita sore hari sesudah ia bermain sepeda. Lutunya luka dan baru - baru ini hingga berdarah-darah. Lemas lah saya ibunya. Emosi saya ingin sekali membuang sepeda itu. Tapi saya pikir, masalahnya tidak akan selesai sampai di situ.
Setelah beberapa hari istirahat dan minum obat karena lukanya yang terakhir itu dan libur dari main sepeda, kemarin Fia minta supaya ia bisa diijinkan bermain lagi. Dengan tegas, saya katakan sebelum obatnya habis, tidak ada ijin untuk bermain sepeda. Fia merengek dan berusaha meyakinkan saya kalau lukanya sudah sembuh.
Akhirnya, Fia saya ajak bicara. [Belakangan saya rasa saya telah mengajukan pertanyaan yang terlalu tinggi buatnya]. Saya katakan, apa yang membuat saya bisa merasa aman dan tidak takut untuk mengijinkan dia bermain sepeda lagi. Saya beri dia waktu untuk menjawab pertanyaan saya. Selang beberapa jam, Fia datang menghampiri saya, dan berkata:
" Ma, mama percaya aja. Fia kan anak mama, Fia nga mungkin macem-macem.." dengan gaya centilnya.
Saya kaget. Kemudian berusaha memaknai kata, Mama percaya aja. Pemikiran saya, itu tidak menjawab concern saya pada keselamatannya mengendarai sepeda. Tapi di sisi lain, saya berpikir, apa yang bisa dibuatnya untuk menjamin saya? Percaya aja....
Setelah beberapa hari istirahat dan minum obat karena lukanya yang terakhir itu dan libur dari main sepeda, kemarin Fia minta supaya ia bisa diijinkan bermain lagi. Dengan tegas, saya katakan sebelum obatnya habis, tidak ada ijin untuk bermain sepeda. Fia merengek dan berusaha meyakinkan saya kalau lukanya sudah sembuh.
Akhirnya, Fia saya ajak bicara. [Belakangan saya rasa saya telah mengajukan pertanyaan yang terlalu tinggi buatnya]. Saya katakan, apa yang membuat saya bisa merasa aman dan tidak takut untuk mengijinkan dia bermain sepeda lagi. Saya beri dia waktu untuk menjawab pertanyaan saya. Selang beberapa jam, Fia datang menghampiri saya, dan berkata:
" Ma, mama percaya aja. Fia kan anak mama, Fia nga mungkin macem-macem.." dengan gaya centilnya.
Saya kaget. Kemudian berusaha memaknai kata, Mama percaya aja. Pemikiran saya, itu tidak menjawab concern saya pada keselamatannya mengendarai sepeda. Tapi di sisi lain, saya berpikir, apa yang bisa dibuatnya untuk menjamin saya? Percaya aja....
Saturday, December 6, 2008
Asisten Dapurku
Suatu hari saat masih sakit di rumah,terpaksa saya harus masak. Mba Ina sakit gigi.So, waktunya turun ke dapur, siap atau tidak! Sehat atau sakit!
Langkah selanjutnya adalah melihat bahan-bahan yang ada di kulkas, dan think..think..masak apa ya?
Ternyata ada: wortel, kentang, tempe, ayam, buncis, daun bawang dan sledri,keju, susu putih. Skarang check bumbu-bumbu: bawang merah, bawang putih, lada...
Rasanya, dengan bahan-bahan ini bisa buat sup, orek tempe dan ayam [diapain ya?]
Bahan yang masih diperlukan adalah bumbu dapur..okey..bisa dibeli di tukang sayur.
Persiapan dimulai. Ini dia persiapan bahan-bahannya:
Bahan sop...
Cara membuatnya:
1. Satu potong daging ayam atau ceker ayam direbus bersama satu panci sup dengan daun seledri dan daun bawang yang diikat jadi satu.
2. Setelah kaldu keluar dan air sudah mendidih, masukan wortel dan kentang (bisa juga divariasikan dengan jagung dan telur puyuh)
3. Bawang bombay (karena tidak ada diganti bawang putih) yang sudah dipotong2, di goreng dengan mentega hingga harum
4. Masukkan dalam panci
5. Tuangi susu dan keju
6. Aduk hingga rata, kemudian masukan pala, lada putih, garam dan kaldu blok secukupnya
Bahan tempe orek...
Cara membuatnya:
1. Tuangi minyak goreng secukupnya, dan goreng tempe yang sudah dipotong-potong
2 Setelah sudah matang dan kering, angkat dan tiriskan
3. Sisa minyak gunakan untuk memasak bumbu-bumbnnya: masukan bawang merah dan bawang putih, laos, daun salam setelah wangi, tuangi kecap manis
4. Setelah tercampur semua, masukan tempe (bisa juga dengan kacang tanah atau teri nasi yang sudah digoreng)
5. Aduk hingga rata
Ini hasilnya: kering, renyah dan manis
Untuk ayam... akhirnya saya memutuskan untuk membuat Ayam Goreng Mentega. Bahannya mudah, hanya bawang putih dan merica yang dihaluskan terus di goreng dengan mentega. Oya biasanya ayam yang sudah dibersihkan, saya baluri dengan bawang putih yang sudah dihaluskan selama satu jam. Supaya lebih terasa bumbunya. Sayangnya, saya menuangkan kecap terlalu banyak. Manis sekali. Selain itu...hiii...ayam ku jadi hitam!!! Well..ayam goreng kecap saya tidak sukses. Mungkin ayam dari kulkas ini masih beku bagian dalamnya karena kelamaan di freezer, jadi saat digoreng, duh...minyaknya loncat sana-loncat sini. Eh, masih juga dalemnya agak kurang mateng..ah...ayam gatot-ku! alias ayam gagal total-ku!...
Oya pekerjaan lebih ringan karena saya punya asisten pribadi yang katanya kalau besar mau jadi Chef! Masak jadi menyenangkan [meskipun Yosua harus bersembunyi di bawah meja makan saat saya menggoreng ayamnya hi..hi..hi..letupan minyak panasnya tu lohh!!]
Ini dia, Chef Yosua:

Note:
Kira-kira bahan-bahan di atas bisa diolah jadi menu apa lagi ya?
Langkah selanjutnya adalah melihat bahan-bahan yang ada di kulkas, dan think..think..masak apa ya?
Ternyata ada: wortel, kentang, tempe, ayam, buncis, daun bawang dan sledri,keju, susu putih. Skarang check bumbu-bumbu: bawang merah, bawang putih, lada...
Rasanya, dengan bahan-bahan ini bisa buat sup, orek tempe dan ayam [diapain ya?]
Bahan yang masih diperlukan adalah bumbu dapur..okey..bisa dibeli di tukang sayur.
Persiapan dimulai. Ini dia persiapan bahan-bahannya:
Bahan sop...
Cara membuatnya:1. Satu potong daging ayam atau ceker ayam direbus bersama satu panci sup dengan daun seledri dan daun bawang yang diikat jadi satu.
2. Setelah kaldu keluar dan air sudah mendidih, masukan wortel dan kentang (bisa juga divariasikan dengan jagung dan telur puyuh)
3. Bawang bombay (karena tidak ada diganti bawang putih) yang sudah dipotong2, di goreng dengan mentega hingga harum
4. Masukkan dalam panci
5. Tuangi susu dan keju
6. Aduk hingga rata, kemudian masukan pala, lada putih, garam dan kaldu blok secukupnya
Bahan tempe orek...
Cara membuatnya:1. Tuangi minyak goreng secukupnya, dan goreng tempe yang sudah dipotong-potong
2 Setelah sudah matang dan kering, angkat dan tiriskan
3. Sisa minyak gunakan untuk memasak bumbu-bumbnnya: masukan bawang merah dan bawang putih, laos, daun salam setelah wangi, tuangi kecap manis
4. Setelah tercampur semua, masukan tempe (bisa juga dengan kacang tanah atau teri nasi yang sudah digoreng)
5. Aduk hingga rata
Ini hasilnya: kering, renyah dan manis
Untuk ayam... akhirnya saya memutuskan untuk membuat Ayam Goreng Mentega. Bahannya mudah, hanya bawang putih dan merica yang dihaluskan terus di goreng dengan mentega. Oya biasanya ayam yang sudah dibersihkan, saya baluri dengan bawang putih yang sudah dihaluskan selama satu jam. Supaya lebih terasa bumbunya. Sayangnya, saya menuangkan kecap terlalu banyak. Manis sekali. Selain itu...hiii...ayam ku jadi hitam!!! Well..ayam goreng kecap saya tidak sukses. Mungkin ayam dari kulkas ini masih beku bagian dalamnya karena kelamaan di freezer, jadi saat digoreng, duh...minyaknya loncat sana-loncat sini. Eh, masih juga dalemnya agak kurang mateng..ah...ayam gatot-ku! alias ayam gagal total-ku!...
Oya pekerjaan lebih ringan karena saya punya asisten pribadi yang katanya kalau besar mau jadi Chef! Masak jadi menyenangkan [meskipun Yosua harus bersembunyi di bawah meja makan saat saya menggoreng ayamnya hi..hi..hi..letupan minyak panasnya tu lohh!!]
Ini dia, Chef Yosua:

Note:
Kira-kira bahan-bahan di atas bisa diolah jadi menu apa lagi ya?
Thursday, November 20, 2008
Chicken pox 4!!!
selasa 18 november 08. 9.20 pagi
Sebuah pesan masuk ke hape saya.
Isinya kurang lebih mengatakan bahwa Fia belum sembuh karena sisa cacarnya belum kering semua. Masih harus dirumah hingga titik-titik hitamnya mengelupas. Untunglah supir masih di sekolah jadi bisa sekalian menjemputnya segera. Kasihan Fia, belakangan saya baru tahu kalau ia tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran di kelas bersama teman-temannya. Ketika saya balas pesan itu, kapan Fia bisa sekolah, jawabannya adalah saat semua bekas-bekas cacarnya sudah mengering. Pengirim pesannya itu adalah Wali Kelas Fia, yang anaknya juga terkena cacar air.
Sebuah pesan masuk ke hape saya.
Isinya kurang lebih mengatakan bahwa Fia belum sembuh karena sisa cacarnya belum kering semua. Masih harus dirumah hingga titik-titik hitamnya mengelupas. Untunglah supir masih di sekolah jadi bisa sekalian menjemputnya segera. Kasihan Fia, belakangan saya baru tahu kalau ia tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran di kelas bersama teman-temannya. Ketika saya balas pesan itu, kapan Fia bisa sekolah, jawabannya adalah saat semua bekas-bekas cacarnya sudah mengering. Pengirim pesannya itu adalah Wali Kelas Fia, yang anaknya juga terkena cacar air.
Chicken pox 3!!!
jumat 14 november 08.malam
secara fisik, Fia sudah tidak mengeluhkan apa-apa lagi.
Nampak titik-itik hitam di beberapa spot tubuhnya yang mulai mengering. Kami pikir, inilah saatnya ke dokter untuk menanyakan apakah Fia sudah bisa kembali ke sekolah 9sekalian minta surat keterangan dokter bahwa Fia memang sakit cacar air. Kesan pertama dokter anak yang kami kunjungi adalah Fia belum sembuh benar. Inilah saatnya si virus varisela itu mencari korban barunya. Kalaupun dipaksakan masuk, akan menular ke teman-temannya yang lain. Jadi dokter menganjurkan untuk istirahat di rumah hingga hari senin dengan perkiraan sisa-sisa cacarnya sudah mengering. Setelah memberikan surat keterangan istirahat di rumah, dokter memberikan resep untuk Fia. Tahu apa yang diresepkan dokter padanya? krim Acyclovir 5% namanya Clinovir, Pil Clinovir (yang juga mengandung acyclovir namun untuk konsumsi oral). Dokter menyebutnya obat anti virus, sirup vitamin yang dikonsumsi sesudah sakit, dan racikan kapsul antibiotik. Total semua 300 ribuan rupiah. Ternyata apa yang sudah kami berikan beberapa waktu lalu Zovirax (acyclovir oral) dan krim Acyclovir 5% yang generiknya sudha benar. Hanya takaran saja, waktu itu seharusnya dikonsumsi sehari tiga kali. Well...saya tidak menyesal dengan keputusan menjaga dan merawat Fia dirumah dalam masa-masa penyembuhan tanpa membawanya ke dokter at the first stage. Karena treatment yang kami berikan ternyata tidak meleset jauh dari obat yang dokter berikan padanya. Untuk Zovirax lihat: http://www.drugs.com/zovirax.html.
secara fisik, Fia sudah tidak mengeluhkan apa-apa lagi.
Nampak titik-itik hitam di beberapa spot tubuhnya yang mulai mengering. Kami pikir, inilah saatnya ke dokter untuk menanyakan apakah Fia sudah bisa kembali ke sekolah 9sekalian minta surat keterangan dokter bahwa Fia memang sakit cacar air. Kesan pertama dokter anak yang kami kunjungi adalah Fia belum sembuh benar. Inilah saatnya si virus varisela itu mencari korban barunya. Kalaupun dipaksakan masuk, akan menular ke teman-temannya yang lain. Jadi dokter menganjurkan untuk istirahat di rumah hingga hari senin dengan perkiraan sisa-sisa cacarnya sudah mengering. Setelah memberikan surat keterangan istirahat di rumah, dokter memberikan resep untuk Fia. Tahu apa yang diresepkan dokter padanya? krim Acyclovir 5% namanya Clinovir, Pil Clinovir (yang juga mengandung acyclovir namun untuk konsumsi oral). Dokter menyebutnya obat anti virus, sirup vitamin yang dikonsumsi sesudah sakit, dan racikan kapsul antibiotik. Total semua 300 ribuan rupiah. Ternyata apa yang sudah kami berikan beberapa waktu lalu Zovirax (acyclovir oral) dan krim Acyclovir 5% yang generiknya sudha benar. Hanya takaran saja, waktu itu seharusnya dikonsumsi sehari tiga kali. Well...saya tidak menyesal dengan keputusan menjaga dan merawat Fia dirumah dalam masa-masa penyembuhan tanpa membawanya ke dokter at the first stage. Karena treatment yang kami berikan ternyata tidak meleset jauh dari obat yang dokter berikan padanya. Untuk Zovirax lihat: http://www.drugs.com/zovirax.html.
Wednesday, November 12, 2008
Chicken pox 2!!
Sunday, November 9, 2008
Chicken pox!!!
jumat pagi
'ma aku rasa badanku ngga enak. perutku sakit tapi ngga seperti biasanyakata fia
coba duduk tenang dan trus makan dulu
Keluhan ini biasa terdengar dan biasanya akan selesai masalahnya di toilet.
Beberapa saat setelah makan, ternyata tidak ada perubahan apa-apa.
Ibu, di perut Fia ada beberapa tonjolan kecil...kata mba Yuni.
Wah.....Fia kena cacar air nih...
Karena pagi itu ada ulangan perbaikan matematikan, Fia tetap pergi sekolah.
Setelah selesai mengikuti ulangan perbaikan, Fia pulang.
Sebelumnya Ibu Wali Kelas memberitahu kalau minggu depan sebetulnya adalah minggu yang padat. Akan ada dua ulangan formatif (atau PST, saya lupa) Sains dan IPS.
Kalau bisa, Fia datang hanya untuk ulangannya saja, bu katanya.
Tapi, Fia kan sakit.
Ah ... tak apa. Dari pada ketinggalan pelajaran? imbuhnya lagi.
Saya tidak bisa jawab apa-apa.
Jujur saja, sebetulnya saya gugup.
Badannya tidak panas. Tapi tidak tahu apa tindakan yang tepat.
jumat sore.
Harusnya sore ini ke dokter. Tapi hujan keras.
Setelah melakukan browsing di internet, kami sepakat untuk tidak membawanya ke dokter hari ini.
Saran dari nurse sekolah, kami perhatikan:
- minum air yang banyak
- mandi dengan tambahan cairan PK
- olesi lotion anti gatal
- kalau panas, berikan parasetamol
'Sedapat mungkin istirahat. Kalau si anak pergi ke sekolah, selain kasihan anaknya karena badannya tidak sehat, juga kemungkinan terjadinya penularan bagi teman-nya yang lain' demikian saran tambahan dari nurse.
Saya teringat ucapan Ibu Wali Kelas yang mengatakan di salah satu kelas, ada 13 anak tidak masuk sekolah karena cacar air.
sabtu/minggu
Lama kelamaan, lesi-nya mulai bermunculan. Di punggung, di perut, di dada, di kepala, bahkan di muka, telinga dan bibir bahkan MULUT!!Kasihan Fia.
Akhirnya kami menemukan obat oral untuk mengurangi rasa gatal itu. Zovirax. Dan krem khusus untuk lesi ini namanya:Acyclovir 5%. Menurut apotekernya, krem ini khusus untuk cacar air. Sedangkan calamin untuk penghilang gatal saja. Bahkan ia menyarankan untuk di muka, bisa digunakan parutan jagung manis kemudian di oleskan di muka, agar tidak tertinggal bekas lesi-nya.
Orang tua hanya perlu bersabar menghadapi kerewelan anak saat ia rasa gatal tapi tidak boleh menyentuh apalagi menggaruk tubuhnya. Bisa dibayangkan bukan?
So, jalan keluarnya adalah saat terasa gatal, Fia hanya perlu bilang di mana dan saya akan ambil tisu dan menggaruknya secara perlahan DISEKITAR lesinya.
Melihat kondisi Fia yang memang tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, membuat saya berpikir, bagaimana ia dapat belajar bahkan mengikuti tes sekolahnya ya?
senin
Hari pertama minggu baru. Kembali bekerja lagi. To do list untuk mba Ina dan mba Yuni untuk lebih ekstra menjaga Fia.
Pagi ini hanya saya dan Yosua yang keluar untuk beraktifitas.
Oya...sebetulnya kami juga sedang menghitung waktu...kapan giliran Yosua.
Dihindari atau justru dibiarkan mengalami penyakit ini sebetulnya juga pilihan orang tua bagi anak-anaknya.
Informasi tentang cacar air (chicken pox):
http://kidshealth.org/parent/infections/skin/chicken_pox.html
http://www.sehatgroup.web.id/guidelines/isiGuide.asp?guideID=9
'ma aku rasa badanku ngga enak. perutku sakit tapi ngga seperti biasanyakata fia
coba duduk tenang dan trus makan dulu
Keluhan ini biasa terdengar dan biasanya akan selesai masalahnya di toilet.
Beberapa saat setelah makan, ternyata tidak ada perubahan apa-apa.
Ibu, di perut Fia ada beberapa tonjolan kecil...kata mba Yuni.
Wah.....Fia kena cacar air nih...
Karena pagi itu ada ulangan perbaikan matematikan, Fia tetap pergi sekolah.
Setelah selesai mengikuti ulangan perbaikan, Fia pulang.
Sebelumnya Ibu Wali Kelas memberitahu kalau minggu depan sebetulnya adalah minggu yang padat. Akan ada dua ulangan formatif (atau PST, saya lupa) Sains dan IPS.
Kalau bisa, Fia datang hanya untuk ulangannya saja, bu katanya.
Tapi, Fia kan sakit.
Ah ... tak apa. Dari pada ketinggalan pelajaran? imbuhnya lagi.
Saya tidak bisa jawab apa-apa.
Jujur saja, sebetulnya saya gugup.
Badannya tidak panas. Tapi tidak tahu apa tindakan yang tepat.
jumat sore.
Harusnya sore ini ke dokter. Tapi hujan keras.
Setelah melakukan browsing di internet, kami sepakat untuk tidak membawanya ke dokter hari ini.
Saran dari nurse sekolah, kami perhatikan:
- minum air yang banyak
- mandi dengan tambahan cairan PK
- olesi lotion anti gatal
- kalau panas, berikan parasetamol
'Sedapat mungkin istirahat. Kalau si anak pergi ke sekolah, selain kasihan anaknya karena badannya tidak sehat, juga kemungkinan terjadinya penularan bagi teman-nya yang lain' demikian saran tambahan dari nurse.
Saya teringat ucapan Ibu Wali Kelas yang mengatakan di salah satu kelas, ada 13 anak tidak masuk sekolah karena cacar air.
sabtu/minggu
Lama kelamaan, lesi-nya mulai bermunculan. Di punggung, di perut, di dada, di kepala, bahkan di muka, telinga dan bibir bahkan MULUT!!Kasihan Fia.
Akhirnya kami menemukan obat oral untuk mengurangi rasa gatal itu. Zovirax. Dan krem khusus untuk lesi ini namanya:Acyclovir 5%. Menurut apotekernya, krem ini khusus untuk cacar air. Sedangkan calamin untuk penghilang gatal saja. Bahkan ia menyarankan untuk di muka, bisa digunakan parutan jagung manis kemudian di oleskan di muka, agar tidak tertinggal bekas lesi-nya.
Orang tua hanya perlu bersabar menghadapi kerewelan anak saat ia rasa gatal tapi tidak boleh menyentuh apalagi menggaruk tubuhnya. Bisa dibayangkan bukan?
So, jalan keluarnya adalah saat terasa gatal, Fia hanya perlu bilang di mana dan saya akan ambil tisu dan menggaruknya secara perlahan DISEKITAR lesinya.
Melihat kondisi Fia yang memang tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya, membuat saya berpikir, bagaimana ia dapat belajar bahkan mengikuti tes sekolahnya ya?
senin
Hari pertama minggu baru. Kembali bekerja lagi. To do list untuk mba Ina dan mba Yuni untuk lebih ekstra menjaga Fia.
Pagi ini hanya saya dan Yosua yang keluar untuk beraktifitas.
Oya...sebetulnya kami juga sedang menghitung waktu...kapan giliran Yosua.
Dihindari atau justru dibiarkan mengalami penyakit ini sebetulnya juga pilihan orang tua bagi anak-anaknya.
Informasi tentang cacar air (chicken pox):
http://kidshealth.org/parent/infections/skin/chicken_pox.html
http://www.sehatgroup.web.id/guidelines/isiGuide.asp?guideID=9
Subscribe to:
Posts (Atom)